Welcome To My Blog



˚ Kenapa Harus Sibuk Mencari Yang SEMPURNA, Jika Yang SEDERHANA saja bisa Membuat Kita Menjadi SEMPURNA ˚


Aku mencintainya, tanpa melihat kata "SEMPURNA" |Aku mencintainya dengan segala kesabaran dan keikhlasan hatinya | Aku mencintainya dengan melihat agamanya,bukan fisikalnya | Aku mencintainya dengan sebentuk cinta yang ku punya | Aku mencintainya,tanpa melebihi rasa cintaku padaNYA | Aku mencintainya tidak melihat kelebihannya | Aku mencintainya karena kekurangan yang ia miliki | Ku Mencintainya Dan ku ingin Menyempurnakan Hidupku Kelak Bersamanya :)



˚ Yuli Nyu' Zhee Fajrianda˚ڪے~


Jumat, 12 Oktober 2012

Karena Aku Telah Dengan Mu

Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Letak lemari, meja belajar, dan rak buku juga masih sama. Tak ada yang berbeda di sini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?

Mataku berkunang-kunang, pagi tadi memang sangat dingin.
Ku tarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam di sana. Dan, tetap saja tak kutemukan kehangatan, tetap mengigil— Ya wajar karena Aku sendirian. Dengan kenangan yang masih menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan kinerja hati. Aku berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang secara sukarela membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras. Sungguh, Aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering mengejar ku. Sekali lagi, Aku merasa sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat lagi.


Kita masuk ke bulan
Oktober. Bulan yang baru. Harapan baru. Mimpi yang baru. Cita-cita baru. Juga kadang, tak ada yang baru. Aku hanya ingin kau tahu, tak semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan, tak semua yang disebut masa lalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya Aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak pernah ingin kulakukan. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab kenapa kau berbohong pada ku.

Kami berpisah, tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, berpisah, begitu saja. Seakan-akan semua hanyalah masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh satu hentakkan kecil. Sangat mudah, sampai Aku tak benar-benar mengerti, apakah kami memang telah benar-benar berpisah? Atau dulu, sebenarnya kami tak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja aku dan dia senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kami bela begitu manis berbisik. Lirih... dingin... memesona... Segala yang semu menggoda, kemudian menyatulah Kami, dalam rasa (yang katanya) CINTA.

Aku mulai berani melewati banyak hal bersamanya. Kami habiskan waktu, dengan langkah yang sama,  dengan denyut yang tak berbeda, begitu seirama... tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. Dan, aku bahagia. Bahagia? Benarkah aku dan dia pernah merasa bahagia? Jika iya, mengapa kami memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa aku dan dia masih sering bertanya-tanya? Pada Tuhan, pada manusia lainnya, dan pada hati kami sendiri.
Tapi pagi ituu, Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Mengapa kau ubah pelangi menjadi penjara? mengapa kau keruhkan air yang sudah tenang. Mengapa harus kau ciptakkan luka, jika selama ini kau merasa kita telah sampai di puncak bahagia? Tolong Jangan Bahas Masa laluku Lagi. Pliss.. Ku mohon :'( 
Kata Putus sudah sering Ku ucap.meski sebenarnya rasa ini masih sangat sayang padamu.
Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu, masih diam-diam mencari tahu kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika ku tau kau masih berhubungan dengan mantan mu dan wanita ituu. Seharusnya, aku tak perlu merasa seperti itu karena kau sudah dewasa, sudah bisa jadi dirimu sendiri.

Ternyata, hari berlalu dengan sangat cepat. Sudah sembilan bulan, dan sudah terhitung lagi berapa frase kata yang terucap untukmu di dalam doa. Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya dengan sangat berani. 
Kupikir, dengan ikuti aturan mu, semua akan semakin sempurna. Lagi dan lagi, aku salah, dan aku memilih untuk pergi. Ini juga salahmu, karena sudah sering ku katakan jangan bahas masa lalu Ku. Aku ingin melupakannya. dan buktinya saya berhasil.

Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku masih mengerjakan rutinitasku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantinya. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, ada yang hanya ingin singgah. Hingga akhirnya mengenal mu. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Ya, semua kenangan memang berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.

Hidupku menjadi berarti bersama mu , dan aku masih berjuang untuk melupakan sosoknya yang tak lagi terengkuh oleh tangan. aku masih ingin jalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwaku masih lekat dengan tubuhku.
Aku ingin melupakannya. Dan tolong bantu aku untuk Itu, bukan malah mengingat kan ku kembali kapadanya. 
"Perpisahan Bukanlah Kematian Buatku, Tapi Kematian Ku karena ketergantungan ku padanya"
Tolong Cerna kata-kata itu, dan kan kau temukan mengapa aku ingin melupakannya. Jika jemari ditakdirkan untuk menghapus air mata, mengapa kali ini aku menghapus air mataku sendiri? Aku tak mengharap masa laluku hadir dan menghapus butiran air di wajah ku ini, Aku juga tak mengharap kamu datang dan menghapus air mata ku. yang ku minta hanya 1, "Jangan bahas dia lagii"
* Jika dia merindukan kami yang dulu, Tidak Dengan Ku, Karena aku telah dengan Mu*